Tuesday, February 17, 2009

Andra Ngeluarin Airmata

Buat bayi, menangis sudah jadi bagian yang identik. Rutinitas. Tapi, di awal kelahiran, bayi biasanya menangis tanpa mengeluarkan airmata. Andra juga begitu. Entah itu menangis atau berteriak. Karena bayi suaranya ya masih belum banyak variasi.

Ketika diimunisasi, usia Andra saat itu 1.5 bulan, Andra nangis, dan mengeluarkan airmata. Eyang Uti yang saat itu menggendong Andra, langsung bilang:

"Nah... Andra udah nangis, keluar airmata dan berarti sudah bisa melihat"

Oh.. begitu.

Sejak itulah, mata Andra bisa mengikuti gerakan di sekelilingnya. Air mata bukan sekedar tanda menangis; untuk bayi, itu juga tanda bahwa penglihatannya makin jelas.

Semoga Andra terus sehat. Abee dan Bunda berdo'a dan bersyukur selalu untuk kesehatan Andra.

Monday, February 16, 2009

Naya tak Buta Warna

Sore ini Bunda nunjukkin sama Abee, kalau Naya tak buta warna. Bunda mengeluarkan bola-bola plastik kecil yang berwarna-warni. Satu persatu Bunda nyebutin warnanya, kemudian Naya mengambil bola plastik dengan warna yang disebutkan...

"Naya.. mana yang warna hijau...?" tanya Bunda
"Ini Bunda..." jawab Naya, tepat.

Alhamdulillah, Naya tak buta warna. di PAUD pun, Naya salah satu siswa yang hobi ngejawab soal warna, walaupun yang ditanya anak yang lainnya.

Cuma, Naya masih kesulitan memilih warna biru dan orange. Entah kenapa, mungkin masih asing buat Naya. Abee pun turun tangan, untuk memudahkan, Abee meletakkan bola biru atau orange di sebelah bola yang Naya sudah tahu warnanya. Ternyata Naya lebih cepat mengetahui warna biru dan orange dengan cara seperti itu.

Kini, setiap ke toko buku, Abee udah bisa mulai nanyain Naya, bukan tentang judul buku, tapi warna cover dari buku yang dipegang Naya.

Naya Bisa Mikir Kreatif



Di sekolahnya, PAUD Sekar Wangi di Semper, Naya termasuk yang paling muda. Sekolahnya ngga beda sama bermain. Bunda Wati, yang jadi gurunya, seneng banget ngajak main siswa PAUD.

Suatu kali, diadakan balap kelereng. Kelereng ditaruh di sendok, dan dibawa jalan, kemudian kelereng dimasukkan ke dalam kaleng. Namanya anak-anak, semua kelereng jatuh.

Naya juga ikutan bermain. Tapi, Naya melihat anak-anak lain pada berjatuhan kelerengnya. Akhirnya Naya mikir, gimana supaya kelerengnya tidak jatuh.

"Aha!"

Ternyata, Naya menggunakan tangan kanan untuk membawa sendok yang di ujungnya ada kelereng, dan tangan jari telunjuk kirinya digunakan untuk menahan kelereng supaya tidak jatuh.

Naya berjalan dengan santai menuju kaleng tempat kelereng. Sepanjang Naya jalan, Ibu-ibu yang memang biasanya menemani anak-anak mereka sekolah, menyoraki Naya. Ada 2 macam sorakannya...

"Naya pinter.... kreatif...!"

Satu lagi..

"Naya curang.....!"

Hehehehe.. Saya memilih mendengarkan sorakan yang pertama, bahwa Naya pintar, Naya kreatif, karena bisa melihat hal yang sama tapi mikirnya beda.

Komentar kedua yang mengatakan Naya curang, itulah biasanya komentar yang bisa jadi membuat anak tidak berani berbeda, tidak berani kreatif, tidak berani berpikir; karena mereka dirancang untuk hidup dalam keseragaman.

Semoga saja saya bisa menjadi orang tua yang mampu memaknai kemampuan berpikir anak sebagai kekayaan.

Buat Nomor Induk Kelahiran



Abee baru saja diterima kerja di sebuah penerbitan nasional. Lokasinya di Depok. Berangkat jam 05.45 dari rumah. Kadang, ngga sempet ngobrol ama Naya dan Andra. Abee nunjukkin kartu karyawan. Warnanya hijau.

Naya minta supaya Abee bikinin juga buat Naya ama Andra... ini hasilnya:
Tanda Nomor Induk Kelahiran ini rencananya mau Naya pake kalau ke sekolah PAUD....Kalau Andra belum bisa dipake sepertinya...